Mengislamkan Majapahit Itu Tidak Mudah, Majapahit Orangnya Pinter-Pinter
Jakarta, LTN NU Jaktim - Mengislamkan Majapahit Itu
Tidak Mudah. Majapahit Orangnya Pinter-Pinter
Ditulis Dari Ceramah Gus Muwaffiq, Jogja
Habis
itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin
al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang
Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.
Disana
dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren
puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan
Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang
bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang
dan Walangsungsang.
Nah
, Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim
Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim
punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.
Mengislamkan
Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu,
sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami
pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.
Sunan
Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat
Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit
tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza
fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”
Artinya:
“…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam
Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu
menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas
pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”
Islam
itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian
berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman
apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah
padi.
Maka
kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam
padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti
dipatok ayam, dimakan tikus.
Baca Artikel Sebelumnya
>> Anak - anak Muda NU Harus Tahu, Para Ulama Dunia Ingin Mencoba IslamNusantara
Mau
menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini
sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada
kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani
santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.
Menanamnya
pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada.
Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa
masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang
mati.
Kalau
Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke
dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling
revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna
lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?
Oleh
Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali
Sangkan Paraning Dumadi.
Setelah
lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang,
nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu
dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.
Orang
Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri,
ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu.
Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok:
menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah
yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit,
gudighen.
Maka
akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa
inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa
artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.
Keempat
perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia.
Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya
dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu
belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.
Ada
sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak
akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim
ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk
dunia.
Begitu
jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”.
“Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa
sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur
ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup.
Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf,
7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )
(Sumber
: KH Agus Sunyoto Lesbumi) Next
Artikel >>
