Anak - anak Muda NU Harus Tahu, Para Ulama Dunia Ingin Mencoba Islam Nusantara
Jakarta,
LTN NU Jaktim – Anak - anak Muda NU Harus Tahu, Para Ulama
Dunia Ingin Mencoba Islam Nusantara
Ditulis Dari Ceramah Gus Muwaffiq, Jogja
Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking
judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria,
yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya
kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca.
Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.
Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait
dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu
bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.
Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang
disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa.
Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa
bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa
atau murco.
Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak
makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi
kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa
hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus
menjadi jenglot atau batara karang.
Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal
karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih
mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar
dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan
Pancamakara.
Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi,
laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging
manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas.
Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.
Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran
tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan,
badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul
orang-orang macam Sumanto.
Baca Artikel Sebelumnya >> Tiga Hal Itu Catatan(Pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje Di Perpustakaan Leiden, Belanda.Tidak Pernah Ada Cerita Apa-Apa
Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya
pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya
santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet.
Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.
Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis
di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan
lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran,
yang tidak bisa dimakan orang Jawa.
Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena
lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan
Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian
mereka diusir.
Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil
Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa
Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi,
Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan
Bajul Sengoro.
Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua
muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim
Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak
perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul
Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.
Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah
Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah,
melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa,
ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid;
laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.
Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan,
ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu
diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian. (Sumber : KH Agus
Sunyoto Lesbumi)
