KH. As'ad Said Ali: Pancasila Religius, Manifestasi dari Islam
![]() |
| Foto: LTN NU Jaktim (15/10) |
Karang Anyar, LTN NU Jaktim - Apel akbar Front Penggerak Pancasila (FPP) di Gunung Lawu Karanganyar, Ahad, 15 Oktober 2017, dihadiri peserta sekitar 30 ribu orang, dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Luar Jawa.
KH As'ad Said Ali, tokoh NU dan bangsa, menegaskan, bahwa Pancasila adalah
manifestasi dari Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Lima silanya mengandung nilai-nilai ketuhanan.
Lanjut kiai As'ad, sila pertama, Ketuhanan yang maha esa. Hal ini sesuai dengan ayat "Qul Huwallahu Ahad".
Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini sesuai ayat "innallaha ya'murukum bil adli wal ihsani waitaidzil qurba wa yanha anil fahsyai wal munkar".
Ketiga, persatuan Indonesia. Hal ini sesuai dengan ayat "wa'tashimuu bi hablillahi jamiian wala tafarraquu".
Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan permusyawaratan perwakilan. Hal ini sesuai ayat "wasyawirhum fil amri".
Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini sesuai dengan ayat "i'diluu huwa aqrabu lit taqwa".
Pancasila ini adalah ijtihad ulama NU, yang sesuai dengan konteks bangsa Indonesia, yang plural sehingga tercipta kerukunan, persaudaraan, dan persatuan nasional sebagai pondasi kehidupan bangsa.
Rumusan Pancasila ini adalah langkah maju bangsa Indonesia, dibanding dengan negara negara Timur Tengah, yang sampai sekarang masih mencari bentuk negara, yang justru sekarang tercabik-cabik konflik politik berkepanjangan.
"Dalam konteks ini, maka Pancasila harus diperkuat untuk keutuhan bangsa", tegasnya.
Partai Komunis Indonesia (PKI) hanya kekuatan kecil yang tidak laku sehingga tidak pernah dirisaukan. Tapi mereka memang nakal.
"Sedangkan NU adalah kekuatan besar yang mengedepankan ketulusan dan keikhlasan", ungkapnya.
KH Mun'im DZ, ketua panitia acara, mengatakan, "Pancasila sekarang sedang digoyang oleh kelompok-kelompok tertentu yg ingin mengganti dengan aliran tertentu yang berciri radikal dan fundamental", kata kiai Mun'im dalam sambutannya.
Ia menambahkan, "Maka, kader kader penggerak Pancasila harus bersatu menyatukan langkah memperkuat Pancasila dan meneguhkannya sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia", imbuhnya.
Sebagai warisan para ulama, Pancasila harus dijaga dan dilestarikan sampai titik darah penghabisan, karena dengan Pancasila, kehidupan berbangsa dan bernegara, berjalan secara harmonis dan kompetitif. (Andi)
